Dongeng Antara Waktu Dan Keadaan Mahasiswa
WAKTU :
Demi masa, sesungguhnya manusia benar – benar dalam kerugian, kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran
Al-Ashr : 130
Dikala meninggalkan kampung halaman, waktu mulai terhitung bagi seorang mantan siswa menerobos pendaftaran untuk menjadi Mahasiswa. Tentu do’a puluhan Orang membebani kedua pundaknya, cita - cita sanak saudara dan keluarga agar ia kelak menjadi Orang ber Ilmu dan sukses menjadi tanggung jawab utama. Waktu mengantarkan Ia pada ruang dan bangku Pendidikan serta mengenal ratusan bahkan ribuan hal - hal baru, baik lingkungan maupun kawan - kawan semua serba baru. Disana (Universitas) wajah - wajah lugu itu tertantang pada deretan bendera Organisasi yang menawarkan pembentukan karakter sebagai generasi milenial dengan segudang Ilmu menuju pengabdian yang besar terhadap diri dan Bangsanya. Berbeda warna bendera, menentukan perbedaan warna ideologi atau faham antara Organisasi – organisasi itu. Mereka terus menghimbau dengan nada mengajak para Maba (Mahasiswa Baru) yang baru bergulat dengan waktu. Cerita tentang kecerdasan dan kesuksesan menjadi isu sentral hampir semua Organ - organ eksternal maupun internal kampus sebagai senjata utama menggait Maba mengikuti kehendak yang di anutnya. Sang Waktu menciptakan tekateki dan terus menggiring para Maba ini dalam pengabdian dan cita - cita Organisasi yang kadang berubah menjadi fatamorgana (seolah olah ada, namun tidak ada).
Waktu terus menuntun mereka dalam penghambaan dan pengabdian sampai karakterpun terbentuk tak ubahnya buruh Organisasi. Teriakan dan kritis dijadikan pertanda keberhasilan suatu proses dikala mengikuti Waktu - waktu ber Organisasi. Sampai kapan semua berjalan seperti ini, semua hanya menjadi misteri. Mereka tetap terbalut dengan teka – teki yang mungkin hanya Waktu pulalah yang mampu menjawabnya.
ILMU :
Proses – proses itu terus menerus dilalui para Maba sesuai dengan sendi Organisasi yang Ia geluti. disana mereka disuguhkan dengan ribuan hipotesis, teori dan ilmu. Lingkar diskusi dan kajian kerap dilakukan dengan bermacam - macam Tema. Pembebasan belenggu Rakyat, baik tingkat Kedaerahan maupun Kenegaraan kerap menjadi Tema sentral. Bermacam - macam warna buku mulai memadati ruang - ruang kamar kos Maba itu dan terus menerus menggiring mereka untuk menikmati keindahan ilmu. Terus menerus skeptis, mencari, mengkaji dan menerima kritik dengan berbagai metode dan terus menerus terulang hingga akhirpun tak dapat diramalkan, entah sampaikapan semua ini kan berjalan, lagi lagi hanya Waktu yang mampu menjawabnya.
IDEALISME :
Ruang - ruang pengkajian perlahan berubah menjadi forum propaganda yang menghadirkan emosi serta terus menerus para senior mencekoki mereka dengan berbagai materi tentang kasus serta keterbelakangan keadilan. Kajian kesenjangan sumberdaya dan minimnya lapangan kerja hingga korupsi mulai menggiring para kader - kader baru ini untuk menggenggam pengeras suara dan jalan dujadikanya etalase perjuangan. Idealisme yang didengungkan, kebebasan yang diteriakan, tuntutan yang dimuntahkan, pada rezim semua ditujukan. Perang teori, kutukan dan hujatan membanjiri podium dengan sosok garang penuh semangat, sang pahlawan intelektualis mendedikasikan kemurnian perjuangan bertajuk Idealisme. Terus ter ulang semua seperti mengalir tanpa henti dan berakhir dimanapun itu tak tahu. Lagi dan lagi, misteri yang sama terus terulang lagi.
DALAM SENJA KEHIDUPAN :
Ketiga alam ini menjadikan dunia kampus seolah berbeda dari dunia sosial lainya. Tiap tiap warna kelompok yang berbeda faham, cara, maupun aturan main membaut kepribadian antar mahasiswapun mutlak terbentuk ber beda - beda. Pada umunya kasat mata melihat telah tercipta 2 kelompok karakter Mahasiswa dalam satu Universitas. Akademisi yang cenderung apatis dengan dunia Organisasi, dan Organisatoris yang terkadang lalai mengikuti pola - pola Akademik. Kondisi ini kerap kali menjadi pemicu tumbuh suburnya perang akal antar kelompok dan makin menjauhkan kekompakan serta kesatuan antara Mahasiswa. Kontras karakter pemikiran antar Kelompok itupun bahkan terjaga dan diwariskan pada generasi selanjutnya. Mereka terus menerus berjalan dalam misteri dengan waktu yang panjang, berkitabkan idealisme dan bermimpikan kesuksesan sampai waktu wisuda mendekat. Disinilah waktu berprose, idelaisme dan dongeng kesuksesan seolah hendak terhenti dan menuai ajal setelah menyadari bahwa jumlah semester yang mereka lalui telah cukup banyak dan stambuk mulai menuah. Wisuda dan hendak menjadi sarjana mulai menghantui isi kepala. Semua sisa energi telah disiapkan sebagai bekal paska sarjana demi kepentingan ekonomi dan kesinambungan kehidupan. Semua tetap dengan satu keyakinan penuh bahwa Dunia kerja menyiapkan berbagai jurusan dan spesifik ilmu untuk penerimaan kariawan baru. Namun semua tidak sesederhana apa yang dibayangkan ketika zona kampus mulai di tinggalkan. Diluar kampus untuk hidup sungguh kejam bahkan menguras energi lebih banyak dari biasanya ketika bertengger di bangku fakultas dan podium. Kerap kali para akademisi kesulitan mental untuk mencapai loby yang akhirnya lumpuh karena mental yang kurang cakap. Hal yangsama pada mereka para organisatoris ketika mencari kerja, skil dan pengalaman menjadi orentasi Perusahaan untuk meloloskan berkas permohonan kerja mereka. Mereka yang perlahan telah lupa dengan idealisme ala kampus.
Pada akhirnya, Uang, Pengalaman, serta Pengetahuan dan disiplin ilmu menjadi bumerang utama ketika sang Sarjana mencari suaka demi diri dan keluarga. Disana tak ada lagi dongeng idelaisme. Disana bertumpuk penyesalan akan waktu yang terbuang. Disana ada tangisan batin yang telah letih memimpikan kesuksesan di Alam semu.
POSPERA (Posko Perjuangan Rakyat):
Inilah cita - citaku. Inilah cita - cita POSPERA, cita - cita seluruh generasi terdahulu Negeri ini, generasi yang telah melewati zaman pertempuran mengusir penjajah demi mencapai kemerdekan dan kini menitipkan Bangsa ini pada kita (Pemuda). Sejatinya Kita meneruskanya bukan dengan berperang ala medan pertempuran fisik, bukan dengan menjajah bangsa sendiri dengan cara menghujat dan mencaci birokrasi, bukan pula bertempur dengan negara sendiri melempari para polisi. Zaman telah berganti, berganti dari tidak merdeka menjadi merdeka. Patutnya cara dan konsep Pemuda untuk menjaga dan terus menyebarluaskan Kemerdekaan dalam segala sektor di seluruh Pelosok Negeri harus berbeda. POSPERA menjadikan Dirinya sebagai wadah Masyarakat. Wadah untuk Masyarakat Awam, dan Intelektualis. Masyarakat kelas bawah, menengah sampai kalangan atas untuk menuangkan konsep, melihat masalah dan mencetak solusi dengan cara - cara yang ilmiah, berwibawah serta santun tanpa perpecahan antar sesama. Menghargai sikap akademis demi mewujudkan Mahasiswa yang punya kapasistas kompetensi, kapasitas organisatoris agar paripurna dan punya integritas dalam bertindak menyelesaikan persoalan sosial. POSPERA menggiring semua Anggota dan Pengurus untuk melihat aktualisasi dan terjun mengawal Program Pemerintahan serta mencerdaskan Rakyat demi kondusifitas pencapaian cita - cita pembangunan oleh Pemerinta untuk Rakyat agar berjalan baik. POSPERA menjadikan wadah untuk segenap Pengurus dan Anggota menumbuhkan karakter Pemuda yang berfikir solutif guna menemukan ide - ide kretaif menuju kemandirian ekonomi pribadi maupun kelompok.
POSPERA selalu mencita - citakan Bangsa Indonesia bisa mandiri diatas tumpuan Pemuda dan Rakyat itu sendiri.
Semua tentu karena Pospera sadar bahwa dongeng dan perbudakan idelaisme serta celoteh dan iming - iming proses yang mengajarkan pembangkangan tanpa solusi yang cerdas serta ilmiah, bukanlah solusi menuju pembangnunan Negara yang berdaulat dan makmur. Dengan ilmu akademik, dengan mental aktualisasi yang bertumpuk pada praktek dan pengalaman serta ekonomi yang terpenuhi, generasi akan merai suskses. Generasi yang sukses hingga mampu menunaikan tanggung jawab sebagaimana yang di emban semasa beranjak dari kampung halaman. Ketika semua mampu berjalan ber iringan dengan ketiga hal diatas, generasi akan mampu menelorkan kemandiriaan baik untuk dirinya, keluarganya bahkan untuk Bangsa dan Negara Repoblik Indonesia.
Sekian
Oleh : Bram Barakatino
Majulah Kawan - kawan, DPC POSPERA KENDARI Bukan Mimpi dalam ilusi........ aminn.. amin... amin....
“
No comments:
Post a Comment